Flu Burung Merebak Lagi, Ahli Beberkan 3 Kemungkinan Sebabnya

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau OIE mengumumkan bahwa wabah flu burung kembali merebak di beberapa negara di Asia dan Eropa. Virus itu dilaporkan telah menyebar cukup cepat dan membuat wabah cukup parah hanya dalam beberapa hari, sementara pandemi Covid-19 juga belum berlalu.

Profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair), Chairul Anwar Nidom, mengungkapkan bahwa, berdasarkan OIE, virus yang menginfeksi di beberapa negara itu tidak semuanya sama. “Tapi semuanya subtipe H5Nx: ada H5N8, ada H5N1 atau H5N2,” ujar dia saat dihubungi, Kamis, 18 November 2021.

Data OIE menyebutkan, Korea Selatan melaporkan wabah merebak di peternakan yang memiliki sekitar 770.000 ekor unggas di Chungcheongbuk-do. Semua hewan tersebut telah disembelih. Sementara Jepang melaporkan wabah flu burung pertama pada musim dingin 2021 itu di sebuah peternakan unggas di timur laut.

Sedang di Eropa, laporan datang dari Norwegia, tepatnya dari wilayah Rogaland. Flu burung menjangkiti 7.000 burung di sana. Pemerintah Belgia juga telah memperingatkan risiko flu burung karena kasus yang ditemukan pada angsa liar. Brussels meminta agar unggas dikandangkan di dalam ruangan mulai Senin, 15 November. Langkah serupa dilakukan di Prancis awal bulan ini dan Belanda sudah melakukannya pada Oktober.

Nidom yang Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular dan pernah menjadi Kepala Pusat Riset Flu Burung di Unair itu juga membeberkan penyebab muncul subtipe virus yang terkini. Menurutnya, ada kemungkinan virus telah melakukan rekombinasi (koalisi) dengan virus-virus flu yang lain. Sementara virus flu lain, baik dari hewan maupun manusia, banyak mengalami perubahan karakter.

Kemudian, faktor kedua munculnya wabah flu burung tersebut bisa disebabkan perubahan cuaca dan saatnya terjadi migrasi burung-burung antar wilayah. Faktor ketiga, adanya vaksinasi pada unggas untuk mencegah influenza. “Serta diduga terjadi pemaksaan jenis vaksin tanpa diikuti kajian karakter virus yang muncul,” tutur Ketua Tim di Laboratoriun Profesor Nidom Foundation (PNF) itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.